Kamis, 23 September 2010
Maulid Nabi
Perlu diketahui pula bahwa –menurut pakar sejarah-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunan yang disandarkan pada Fatimah).More....
Senin, 30 Agustus 2010
Membaca Shalawat untuk Nabi
Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.
Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.
Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.
Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.
Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam.
Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)
Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:
وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ
Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.
Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).
Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.
Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)
KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta
Rabu, 23 Juni 2010
MANUSIA DENGAN CAHAYA KESUCIAN
Tak banyak kaum muslimin mengetahui bagaimana bentuk fisik Rasullulah SAW.
Banyak riwayat mengungkapkan, beliau adalah sosok yang sangat tampan dengan tubuh proporsional. Kulitnya putih bersih dan kemerahan, wajahnya bersinar. Dalam salah satu riwayat, Annas bin Malik mengungkapkan, Rasulullah SAW tidak berperawakan terlalu tinggi tapi juga tidak pendek; kulitnya tidak putih bule, tapi juga tidak sawo matang; rambutnya ikal tidak terlalu keriting, tapi juga tidak kaku; rambut di kepala dan janggutnya tidak ada sampai 20 lembar uban.
Dalam hadist lain, Anas bin Malik menceritakan, bentuk tubuh Rasulullah SAW sedang, tidak tinggi, tidak pula pendek. Bentuk tubuhnya bagus. Rambutnya tidak terlalu keriting, tidak pula lurus kaku, warnanya kehitam-hitaman. Beliau selalu berjalan cepat. Menurut hadist lain, perawakan Rasulullah SAW sedang, bahunya bidang; rambutnya lebat mencapai daun telinga. Jika mengenakan pakaian merah, tiada seorang pun yang lebih tampan dari beliau.
Dalam sebuah hadist, Al-Bara bin Azib menyatakan,”Aku tidak pernah melihat sosok lelaki yang berambut panjang dan terurus rapi dengan pakaian merah yang lebih tampan dari Rasulullah SAW. Rambutnya terurai mencapai kedua bahunya yang bidang; perawakannya tidak pendek, tapi tidak pula terlampau tinggi.” Hadist lain mengisahkan, telapak tangan dan kakinya terasa tebal, kepalanya besar, demikian pula tulang persendiannya, sementara bulu dadanya panjang. Bila beliau berjalan, jalannya gontai seolah sedang turun ke dataran yang lebih rendah. “Tidak pernah aku melihat sosok seumpama beliau, baik sebelum maupun sesudahnya,” kata Al-Bara.
Menurut sahabat dan menantunya, Ali bin Abi Thalib, rambut Rasulullah SAW tidak keriting bergulung, tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Tubuhnya tidak gemuk, dagunya tidak lancip, wajahnya agak bundar, sementara kulitnya putih kemerahmerahan. Matanya hitam pekat, bulu-bulu halus dan lebat memanjang dari dada sampai pusar. Jalannya tegap dan cepat, seakan-akan turun ke dataran yang rendah; dan jika berpaling, seluruh badannya ikut berpaling. Menurut Ali pula, di antara kedua bahunya Rasulullah SAW terdapat khatamun nubuwwah, “tanda kenabian”.
Dalam suatu riwayat, Jabir bin Samurah mengungkapkan perihal khatamun nubuwwah. “Aku pernah melihat khatamun nubuwwah yang terletak di antara kedua bahu Rasulullah SAW. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara”, tuturnya. Dan menurut Abu Sa’id Al-Khudri, tanda kenabian itu ada di bagian belakang tubuh Rasulullah SAW, merupakan daging yang menyembul.
Cerita Abdullah bin Sirjis lain lagi. “Suatu hari aku menghadap Rasulullah SAW sewaktu beliau sedang berada di antara para sahabatnya. Aku mengelilingi tubuh beliau. Rupanya beliau mengerti apa yang aku inginkan. Maka beliau melepaskan selendang dari punggungnya, hingga terlihat olehku tempat khatamun nubuwwah di antara kedua bahunya, sebesar genggaman tangan, di sekitarnya terdapat tahi lalat, seperti kumpulan jerawat.”
Banyak riwayat yang menceritakan, siapa yang sempat mencium khatamun nubuwwah akan mendapat syafaat Rasulullah SAW dan bersama-sama beliau masuk surga. Di akhir khutbahnya setelah melakukan haji wada’ Rasulullah SAW minta kerelaan seluruh kaum muslimin atas segala kekhilafannya. “Kalau ada utang, silakan menagih secepatnya; kalau ada yang pernah merasa disaki, bisa menuntut qisas balik,” sabda beliau.
Tiba-tiba ada salah seorang sahabat yang berdiri. Ia menuntut qisas, karena pernah tak sengaja terkena cambuk Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW pun menyuruhnya maju untuk melakukan qisas. Beberapa sahabat tidak sabar dan bersiap mencabut pedang. “Waktu itu aku tidak mengenakan baju, ya Rasulullah,” kata si penuntut qisas. Maka Rasulullah SAW pun membuka bajunya dan bersiap menerima cambuk.
Tapi, tidak dinyana, dengan sigap secepat kilat, si penuntut qisas itu langsung memeluk Rasulullah SAW dan menciumi khatamun nubuwwah di punggung beliau. Maka para sahabat pun kontan lega dan terharu, sementara si penuntut qisas mendapat pujian Rasulullah SAW karena kecerdikannya. Hati Rasulullah sangat pemurah, ucapannya selalu benar, akhlaqnya lemah lembut, dan sangat ramah. Siapa pun yang melihatnya pasti menaruh hormat. Dan siapa pun yang pernah berkumpul dan mengenalnya, akan mencintainya.
Menurut Hind bin Halah, Rasulullah SAW sosok yang berwibawa dan berjiwa besar, wajahnya selalu cerah bagai rembulan di malam purnama, dan berjiwa sebagai pelindung.
Rambutnya bergelombang, disisir rapih bersih dan belah dua; atau diuarai menjuntai melampaui daun telinga. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit terpisah, di antar keduanya terdapat urat yang kemerah-merahan.
Hidungnya mancung dan bercahaya hingga tampak lebih mancung. Lehernya mulus dan tegak, kedua pipinya halus, mulutnya lebar serasi dengan bentuk wajahnya, giginya agak jarang tapi teratur rapih, bulu dadanya halus, jenggotnya lebat dan rapih.
Hind bin Halah menuturkan juga, bahwa bentuk tubuh Rasulullah SAW sedang, badannya berisi, perut dan dadanya yang bidang sejajar, jarak antara kedua bahunya lebar, tulang persendiannya besar.
Bagian tubuh yang tidak ditumbuhi bulu rambut bersih bercahaya. Dari pangkal leher hingga pusar tumbuh bulu tebal bagaikan garis. Kedua susu dan perutnya bersih; kedua hasta, bahu, dan dada bagian atas berbulu halus; kedua ruas tulang tangannya panjang. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah. Kedua kakinya licin hingga, air pun tidak menempel.
Bila berjalan, beliau angkat kakinya dengan tegap, melangkah dengan mantap dan sopan. Jalannya cepat, seolah turun ke dataran yang lebih rendah. Bila menoleh, beliau memalingkan seluruh tubuhnya. Pandangannya penuh makna, terarah ke bawah, hingga pandangan ke bumi lebih lama dari pandangan ke langit. Bila ada sahabat berjalan, beliau berjalan di belakangnya; bila berpapasan, beliau menyapa dengan salam yang ramah.
Mengenai wajah Rasulullah SAW, terungkap dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Ishaq. Suatu hari seorang laki-laki bertanya kepada Al-Bara bin Azib, “Apakah wajah Rasulullah SAW lancip bagaikan pedang?” “Tidak. Wajah beliau bagai rembulan,” jawab Al-Bara. “Tak ada sesuatu pun yang aku lihat lebih indah daripada wajah Rasulullah SAW, seolah-olah matahari mengelilingi wajahnya. Tak ada seorang pun yang aku lihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah SAW, seolah-olah bumi terlipat. Sungguh kami bersusah payah mengikuti jalan beliau, sementara Rasulullah SAW jalan terus tidak mempedulikan kami,” Ujar Abu Hurairah.
-- 0 0 0 -
